//Briena's here

tukang sampah itu
Rabu, 25 April 2012 | 08.39 | 6comments
ini hari libur. Yah, emang dasar penangguran. Udah berulang kali aku menyerahkan surat lamaran kerja ke perusahaan ini, itu yang ini, yang itu.Tapi cuman berakhir di tes buta warna.

Ya memang, penyakit yang benar-benar aku benci dan ini harus menjadi tanggunganku SEUMUR HIDUP. mulai dari masuk universitas yang paling aku idamkan dan hasilnya tidak diterima karena PENYAKIT INI.

sebagai putra sulung. Aku malu melihat adik perempuanku yang sudah berprofesi menjadi dokter. Sedangkan aku ? Yahhh. .mengecewakan.

ayah di surga mungkin hanya bisa tersenyum sabar melihat putra sulungnya TIDAK MELAKUKAN APA-APA.
maafkan aku ayah.

ibu yang sehari-hari menjahit dan melanjutkan sawah ayah hanya bisa menyemangatiku supaya aku tidak berputus asa.
mereka orang tua hebat. Sayangnya mereka mempunyai putra yang. .yahh kalian tau lah

aku berjalan ke teras rumah. Kulihat ada bapak tukang sampah yang namanya pun aku gak tau. Seperti biasa mencari botol bekas, koran, dan sampah plastik. aku terdiam. .

kulihat pohon bambu cina di teras rumahku sudah cukup panjang. Karena pasti ribet membuatnya bulat kembali. lagipula aku juga malas. Akhirnya aku menyuruh tukang sampah itu untuk membersihkannya.

"pak, tolong dirapikan ya. .bentuknya bulet," tanganku membentuk huruf O sebagai isyarat. Dan kalian tau reaksi bapak itu apa. .KABUR !!
"pinter" kata batinku

10 menit kemudian bapak itu kembali membawa sabit.
"Ya ampun pak, pake sabit saya aja."kataku sambil tersenyum, yang dibalas dengan senyuman juga. Aku pun duduk di teras rumah, mengawasinya.

kulihat kerjanya cukup bagus. rapi lah. akupun mengambil uang 10 ribu rupiah dan beberapa botol minuman bekas.
"makasih pak ya" kataku sambil tersenyum.

bapak itu tersenyum sumringah seakan-akan mengucapkan terimakasih. lalu meyalami aku. aku hanya bisa tersenyum.
"bapak rumahnya mana ? ntar kalo saya butuh saya ngampiri bapak saja," kataku sambil tersenyum.
bapak itu menunjuk arah selatan. lalu mengambil batu bata dan menorehkannya di atas batu "dusun kolla"

aku keheranan. 'apakah bapak ini bisu ?'
lalu aku memberanikan diri untuk bertanya
"maaf pak apa bapak. ."tanganku berisyarat "tidak bersuara"

bapak itu hanya menangguk, tersenyum , lalu pergi. .
aku hanya bisa terharu. Ternyata beliau lebih tidak beruntung dibandingkan aku
perlahan air mataku menitik. sembari melihat sosok tangguh itu menghilang dari kejauhan

terimakasih tuhan telah mempertemukan aku dengan beliau.

Older Post | Newer Post