//Briena's here

Impian Kakek
Jumat, 20 Juli 2012 | 23.05 | 1comments
               Aku mengenakan baju putih-putih dengan songkok hitam berpin garuda di sebelah kanan. aku sekarang sedang berada di Istana Negara, mengenakan baju PETUGAS PASKIBRAKA NASIONAL. Betapa bangganya aku saat ini. Dan yang embuatku semakin bangga adalah. .aku terpilih mengibarkan bendera pusaka.
              Aku jadi teringat ketika aku dan kakek duduk di teras. Aku hidup berdua bersama kakek di rumah kecil yang penuh dengan ayam. Berbicara tentang perjuangan kakek dahulu kala takkan pernah habis bila beliau yang bercerita. Susah, senang, sedih, gembira, benar-benar terekam jelas di ingatan kakek yang usianya menginjak 83 tahun.
"kakek dulu pahlawan", dengan bangganya kakek berkata sepeti itu sambil merawat ayam bekisar kesayangannya.
"kamu tau, dulu kakek ingin mengibarkan bendera pusaka dan dilihat oleh pak presiden, sayangnya itu cuman mimpinya kakek, dulukan kakek kan cuma petani", kakek mengawang-awang lalu mulai bercerita tentang perjuangannya dahulu kala. Pistol yang disimpan di dalam sumur, persediaan makanan yang di timbun di kandang sapi, kejamnya pemerintahan belanda, dan lain sebagainya.
              Aku hanya bisa tersenyum dan mengingat kembali kenangan-kenangan dahulu.
              Sengaja aku memandang tiang bendera di tengah lapangan. lalu, mengingat ekspresi kegembiraan kakek ketika aku lolos seleksi.
"kakek bangga punya cucu sepertimu", kata kakek sambil menangis dan memelukku erat. Kebahagiaanku tak berlangsung lama, 5 hari kemudian kakek dipanggil oleh Yang Maha Pencipta untuk menemaninya di surga. Aku menangis sejadi-jadinya mengingat perjuanganku selama ini hanya untuk kakek. Sekarang aku berdiri di sini mengemban tugas dan berjuang untuk kakek.
"SIAAAAAAPPPPPPP. .GRAAAAAAKKKK !!"
aku mulai bersiap mengatur barisan dengan kiri kananku.
"LANGKAH TEGAP MAJUU !! JALANN !!"
Jantungku mulai berdebar kencang. Aku tak melihat bayanganku. Sepertinya, dunia sepertinya sedang ada di pihak kami, buktinya, langit mendung.
              Aku berjalan setegap mungkin dan berusaha terlihat gagah di depan presiden dan tamu undangan. Pikiranku mulai tak karuan.
               Setelah bendera ada di tangan kawanku. Jantungku berdebar , tanganku dingin. Tanpa sadar sepertinya aku melihat kakek di dekat tiang bendera.
'KAKEK !!' seakan hatiku ingin berteriak.Beliau hanya tersenyum melihatku
                 Aku menjalankan tugas dengan baik. Seperti yang pelatihku ajarkan dan seperti bisikan halus kakek yang menuntunku menarik bendera sesuai irama lagu INDONESIA RAYA. Hatiku tenang, tapi kakek seolah pergi menyunggingkan senyuman sembari memberi hormat padaku.
Semoga beliau tenang di alam sana.

“FlashFiction ini diikut sertakan dalam proyek nulis bareng peduli bareng 67 cerita untuk Indonesia

Older Post | Newer Post