//Briena's here

Istriku
Rabu, 12 Juni 2013 | 02.40 | 0comments
Aku terdiam dalam penjara yang gelap dan lembab dengan ditemani beberapa tikus di sisi pojok ruang tempatku berada sekarang. Dunia luar hanya bisa kulihat dari celah-celah kecil di tembok yang tak pernah absen untuk menerangi "kamar"ku yang gelap ini. Tiba-tiba petugas kepolisian memintaku untuk keluar menemui dia. Yahh.. aku telah mengecewakannya berkali-kali dan dia masih setia pada lelaki pembunuh sepertiku.

Aku berjalan menelusuri kamar-kamar lain selayaknya hotel prodeo. Di sebuah ruangan, aku melihatnya masih cantik seperti dahulu dengan raut wajah yang sedikit keriput dan tangan yang kurus. Dia tersenyum lebar, lalu memelukku, aku membalas pelukkannya dan mencium keningnya "kau wanita yang sabar istriku" ucapku. Kita duduk di kursi dan terdiam beberapa saat. Menatap matanya membuatku ingin cepat mati agar penderitaanya berkurang.

"mas.. aku harus ke surabaya dan menetap di sana.. Anak kita diterima di ITS," katanya sambil memegang tanganku. Aku teringat akan Rudi, dia pasti sangat tampan dan berwibawa sekarang. Aku tersenyum dan sebutir air mata meleleh di kelopak mataku, betapa tidak berharganya aku menjadi seorang ayah. "oh iya satu lagi," istriku memegang pundakku dan mengarahkan wajahku untuk melihatnya "kapten bhirawa bersedia menjadi saksi bahwa kasus ini hanya fitnah.. kapten Ishikawa terbunuh karena overdosis obat bukan karena keracunan makanan yang kau beri.. bila semuanya berhasil.. kau bisa bebas 1 bulan lagi."

Aku tercengang mendengarnya, istriku tersenyum dan mengangguk. Sontak aku memeluk istriku yang sabar dan sederhana ini. Aku memandang langit yang mulai kemerahan dan siang hari ini pun tertutup kebahagiaan walau harus menunggu.

Older Post | Newer Post